Home » » Badai Debu Nun Tak Jera

Badai Debu Nun Tak Jera

Sesaat aku mencoba sejenak melapaskan kepenatan dari pekerjaanku yang menumpuk, bukan tidak mungkin hal itu menguras tenaga dan pikiran, karena pekerjaan itu harus aku tuntaskan setiap harinya tepat waktu, jika tidak maka akan menunggu pekerjaan-pekerjaan lain yang siap untuk diselesaikan. Muncul pula secercak pikiran untuk bersantai ria, menghirup udara segar di pagi hari, bersantai menikmati keindahan pemandangan Lautan desiran angin di tepi pantai akibat terjangan ombak yang saling kejer-kejaran, bersamaan dengan itu pula seketika rasa stres yang mendera menghilang dari pikiran ini. Walaupun hal itu tanpa di temani oleh sang istri dan sibuah hati. Ya maklum memang sejak kami menikah, kami tidak tinggal serumah, melainkan hidup saling berjauhan akibat tuntutan kerja masing-masing. Dia bekerja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di salah satu perguruan Tinggi Negeri Di Bengkulu. Sementara aku bekerja di sektor pembiayaan di salah satu Bank swasta di Bengkulu utara. Jadi kami hanya bertemu 1 kali dalam 2 minggu. Meskipun demikian kami tetap saling percaya dan saling menjaga antara satu sama lain. Menghilangkan kepenatan dengan berwisata adalah suatu hal yang baik, mengingat tumpukan pekerjaan di kantor tidak cukup rasanya dihilangkan dengan beristirahat di rumah, karena otot-otot saraf yang masih tengang itu, harus pula mendapatkan sentuhan kedamaian di hati melalui menikmati keindahan alam. Bukan itu saja, pori-pori ini ingin pula rasanya di susupi oleh sejuknya hembusan angin yang sahdu, sehingga otot-otot saraf yang tegang tadi perlahan akan mengendor seiring kendornya ketengangan pekerjaan yang kita pikul. Oleh sebab itu, baik di hari libur atau pun di akhir pekan, sering aku isi dengan berlibur bersama alam. Dan semakin damai rasanya di hati, jika weekend kita di sertai dengan istri tercinta. 

Itulah kilas balik, suatu hubangan yang pernah aku jalani, saat saat awal menlani hidup berumah tangga. perpisahan bukan suatu yang menakutkan bagi kami, namun justru akan menambah nilai kasih sayang saat saat berjumpa pada malam-malam yang indah. Kehangatan itu akan semakin terasa indah, ketika perpisahan merupakan kemufakatan baik untuk menggapai semua impian bersama membangun bahtera kebahagiaan di syurga.

Liku-liku hidup ini selalu saja hilir mudik datang silih berganti, mengihasi perjalan hidup manusia, dikala senang maka akan hadir canda dan tawa, dikala sedih maka akan berurai air mata bersama. Itu sebagai bukti bagaimana kita menikmati hidup dengan penuh semnagat, penuh motivasi dan kerja keras. Sebuah keberhasilan dan keduksesan tidak bisa datang dengan begitu saja tanpa adanya perjuangan yang maksimal. Bukan hal yang mudah untuk memperoleh itu, sebuah jalan terjal musti kita lewati, menyingkirkan kerikil-kerikil tajam yang selalu saja siap menghadang, musti kita lintasi dengan penuh kehati-hatian agar mencapai sebuah puncak kebagiaan dengan selamat.

Aku terlahir di dunia ini sudah membawa kodrat ku sendiri, segudang kebahagiaan mungkin saja telah di titahkan tuhan kepadaku, atau justru kesedihan dan kepahitan hidup musti aku jalani seblum aku menemukan sebuah titik, dimana aku akan nyaman dalam menjalaninya. Persoalan hidup ini sebernya bukanlah suatu yang ringkat dan pendek, dia harus panjang dan rumit untuk kita buka dan bentang agar bisa menjalar dalam kehidupan ini dengan sesempurna mungkin. Jiwa yang tangguh, mental yang hidup, keberanian yang terukur bisa saja mengubah segalanya menjadi sesuatu yang lebih baik. Sebernarnya bukan lah suatu persoalan itu yang rumit, namun ketika kita mengambil jalan penyelesaian yang tidak menemukan jalan terbaik, maka selalu saja hadir kerumitan-kerumitan yang sejatinya akan mudah kita lewati.

Hidup disebuah desa kecil yang jauh dari jangkauan keramaian, di tengah hutan belantara bertarung dengan pahitnya hidup sudah pernah aku lalui, mengisi hari tuk mengais riski demi hanya mempertahan kan hidup hingga esok hari. Bukan lah perkara mudah, menerjang badai dan ganasnya hutan di bawah ancaman binatang buas hutan belantara, tak sedikitpun menciut nyali ini untuk bisa merebut kebahagiaan disaat duduk di bawah pondok peristirahatan. Saat itu mata ini mulai terbuka menatap masa depan yang curam, yang tak berujung hingga pada saat yang berbeda aku harus bisa merubah navigasi kehidupan ini menjadi yang lebih baik.....

Penulis adalah Pejuang tangguh merubah kehidupan hingga 180 Derajat

0 comments:


Posts Terbaru

Arsip Blog

Kategori

Info (10) Motivasi (8) OPINI (6) Pendidikan (3) Short Story (4) Sosok (1)

Pengikut