Home » » Pikiran yang Terpenjara

Pikiran yang Terpenjara



Kebahagian ku
Saya ingin mengajak kawan-kawan untuk sedikit saja membayangkan, pikiran yang kita punya, memiliki kemauan yang luas untuk bisa bebas, ternyata masih bisa dipenjara. Apa lagi fisik kita yang hanya “budaknya” pikiran, sudah barang tentu akan mudah lagi untuk dipenjara. Sungguh manusia ini makhluk yang paling “bingung” dengan pikirannya sendiri. Manusia dengan potensi pikirannya mampu melahirkan peradaban di muka bumi yang berfungsi untuk kepentingannya manusia di dalamnya. Ketika peradaban itu telah lahir manusia menjadi “TIDAK BERKUTIK” dengan barang ciptaanya sendiri. Manusia harus patuh dengan segala aturan, norma, etika, hingga aturan protokoler yang seringkali kembali memenjarakan pikiran.
Dalam buku “ Genius Learning Revolution” oleh Hamdan W Tarerasi, memberikan gambaran terhadap apa dampak dari sebuah pikiran yang terpenjara. Walaupun manusia ini berada dalam kebingungan, manusia selalu mencari celah kosong dari ketatnya “norma” peradaban yang dilahirkan oleh manusia itu sendiri demi mencari penyempurnaan hidup. Dengan adanya kebingungan manusia menjadi mau belajar. Dengan adanya penjara pikiran, manusia berupaya untuk ingin bebas. Pikiran manusia yang binal dan liar, cendrung ingin bebas dari bebagai budaya hasil ciptaannya. Maka belajarlah untuk tidak memenjarakan pikiran, agar hidup kita akan menjadi bebas, sebebas kemauan kita.
Pikiran yang bebas akan melahirkan sebuah karya. Karya yang baik akan menjadi hasil kekayaan intelektual seseorang. Karya intelektual akan sangat bermanfaat bagi kehidupan. Tentu kebebasa berpikir ini tidak hanya bebas melakukan apa saja tanpa ada pertanggung jawaban, namun pikiran yang bebas adalah pikiran yang bertanggung jawab atas apa yang di hasilkan, bukan pikiran yang akan menyesatkan kehidupan orang lain. Tentunya tidak boleh melakukan sesuatu sesuka hati tanpa mempertimbangkan norma-norma agama, atau norma-norma susila lainya serta kaidah-kaidah kepatutan, sehingga menimbulkan kebingungan kepada kehidupan orang lain.



Bebas Berekpressi 
Orang boleh mencurahkan hasil pikiran apa saja pada kanvas yang ideal, pada chanel yang positive pada media yang patut. Orang boleh menghadirkan temuan-temuan ilmiah pada ranah yang bertanggung jawab. Orang boleh mengambil manfaat atas apa yang telah menjadi hak nya. Akan tetapi, orang tidak boleh mengkalim hak orang lain menjadi haknya, orang tidak boleh mengaku ciptaan orang lain adalah ciptaan dirinya, dan orang juga tidak boleh melanggar aturan-aturan baku yang telah menjadi ketetapan bersama. 

Dengan demikian, pikiran yang positive, karya yang bermanfaat, serta kesejahteraan yang di peroleh akan memeberikan subangsih dalam mengisi kemerdekaan berpikir pada kemaslahatan hidup orang banyak. Jauh seblum kita hadir, telah banyak kemaslahatan-keemaslahatan yang di tinggalkan orang-orang sebelum kita, sehingga kita dapat mengambil manfaat dari pada hasil karya merekea. Bisa kita bayang kan, tak kala orang-orang terdahulu, tidak meninggalkan jejak tinta emasnya di atas kanvas kehidupan, barang kali hari ini kita akan hidup di alam yang penuh dengan ketidak tahuan. Semua ini terjadi karena orang-orang terdahulu diberikan kebebasan pikiran yang terkontrol sehingga mereka mampu melahirkan kekayaan-kekayaan intelektualnya, yang nantinya akan di manfaatkan sepenuhnya oleh anak cucu mereka.

Lalu, siapa sih yang memenjarakan pikiran kita..?
Jangan mencari jawaban untuk menyalahkan pihak lain, tidak usah pula kita mencari kambing hitam terhadap persoalan ini..! 

Yang memenjarakan pikiran kita itu adalah KITA sendiri. Kita yang membuat kerangkeng dalam kepala kita, sehingga IA tidak bisa menikmati kehidupan luar. Kita sendiri yang membatasi pikiran kita, sehingga ia tidak mampu berbuat apa-apa. Kita sendiri yang memanjakan pikiran kita sehingga tidak bisa bekerja lebih banyak. Dengan demikian kita akan menyalahkan semua keadaa,..?

Mari kita lihat, sudah seberapa banyak kita menyalurkan pikiran kita untuk kemaslahatan kehidupan kita dan orang lain..? sudah seberapa bebas orang oarang lain menikmati hasil karya kita..?
Nah oleh sebab itu, mari kita secara bersama-sama membebaskan pikiran kita untuk berpikir bagaimana bisa melakukan sesuatu, agar memberikan kebaikan bagi kehidupan ini. Lepas kan pangkuan tangan kita dari pangkuannya, agar ia bisa melenggang kian kemari. Tutup rapat celah angin yang akan mengusik kebasan kita dalam menyediakan konsumi pikiran kita. Dengan demikian, pada suatu saat nanti, anak cucu kita akan tahu, bahwa kita dulu pernah hidup...!!


Penulis: Hairi Yanto

0 comments:


Posts Terbaru

Arsip Blog

Kategori

Info (10) Motivasi (8) OPINI (6) Pendidikan (3) Short Story (4) Sosok (1)

Pengikut