Home » » #19 Tahun Sudah Ibu Tinggalkan Kami

#19 Tahun Sudah Ibu Tinggalkan Kami

Di penghujung tahun 1999 yang lalu, persis-nya sekitar bulan Desember adalah awal mula terjadinya kisah sedih dalam kehidupan keluarga kami. Sedih akibat menanggung duka yang teramat dalam atas sebuah peristiwa yang menyayat hati yang datang secara tiba-tiba. Peristiwa itu tak pernah kami harapkan, seketika menetak perhatian dan meneteskan air mata, karena kabar duka berembus dari keluarga kami. Ibuku pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. 
AMAK di Usia 16 Tahun

September 1999

Pagi itu, hari minggu di bulan September 1999 (Tanggalnya saya lupa) sekitar pukul 07.00 pagi, seperti biasa rutinitas saya dan ibu berlangsung selayaknya sebuah pekerjaan rumah tangga. Sehabis mandi, saya bertugas menyapu rumah, masak nasi, rebus air dan menggiling cabe untuk masak sayur (Gulai) yang pekerjaannya nanti akan di lakukan oleh ibu, karena memang waktu itu saya baru berusia kurang lebih 12 tahun.

Bapak ku, Kami tidak memanggil Bapak dengan Panggilan Ayah, karena bagi kami yang hidup di desa, panggilan Ayah merupakan panggilan yang sangat langka, jika pun ada maka akan menjadi bahan olok-olok an oleh tetangga,   karena di anggap, sok ke kota-kota-an. Oleh sebab itu kami memanggil nama orang tua laki-laki dengan panggilan "ABAK" sedangkan untuk ibu dengan panggilan "AMAK"

"ABAK" ku sedang tidak berada di rumah waktu itu, beliau berangkat ke kebun sekitar jam 6 pagi, Setelah shalat subuh, sarapan nasi dingin kemudian berangkat dengan parang yang terikat di pinggangnya, dan di tambah pisau menyadap karet satu buah. Pakai sepatu tani warna hitam, dengan topi loreng (ABRI) yang melingkar di kepalanya, sepintas selalu "ABAK' ku di pandang sebagai sosok yang gagah dan bertanggung jawab. Berangkat lebih awal karena jarak antara kebun dengan desa kami itu kurang lebih 3-4 Km, di tempuh dengan berjalan kaki, karena memang kami belum memiliki kendaraan bermotor waktu itu. Pada tahun 90an, di desa kami yang memiliki kendaraan bermotor baru hanya 1-2 orang saja, selebihnya masih menggunakan kereta.

"ABAK" kekebun itu dalam rangka menyadab karet. Karet merupakan komoditas pertanian yang di lakoni oleh masyarakat kami selain kebun kopi. Sehingga tidak ada pilihan lain, selain dari pada nyadap dan panen kopi.

CIKMANDANI, Kakak tertuaku pagi itu juga tidak sedang berada di rumah. Beliau sedang berada di dalam hutan, narik kayu balok dengan seekor kerbau milik sang juragan. Biasanya baru pulang ke rumah setelah seluruh pekerjaan usai, terkadang sampai 1-2 bulan di dalam hutang, tergantung kondisi kerbau dan persediaan bahan makanan. Jika kondisi kerbau terlihat lelah atau mengalami cidera, maka pulangnya lebih awal, tidak harus menunggu pekerjaan usai.

SUDARWADI, Kakak ku yang nomor 2, juga sedang tidak ada di rumah, seperti biasa anak-anak remaja yang tinggal di desa, hubungan silaturrahmi terjalin dengan baik, sehingga tidur di rumah teman itu merupakan hal yang biasa-biasa saja, dan tidak pernah menjadi sebuah persoalan. Itulah hebatnya jika kita tinggal di Desa, kedekatan hubungan emosional sangat lah erat, tidak sama dengan di kota-kota.

AIDI, adik lelakiku waktu itu masih tidur di kamar. Karena waktu itu baru berusia 7 atau 8 tahun, baru selesai ujian kenaikan kelas, naik ke kelas 2 SD. Jadi seluruh pekerjaan rumah itu belum lah menjadi kewajiban untuk membantu, tapi jika ia mampu melakukannya juga tidak kami larang. 

ISNAINI, adik perempuanku yang bungsu, baru berusia 3 tahun. Jadi belum begitu mengerti tentang sesuatu apapun, baik itu pekerjaan rumah, bantu kakak-kakak nya dan lain sebagainya. Untuk dirinya saja masih dibantu oleh "AMAK" dan kami-kami ini semua.

Pada saat aku melakukan pekerjaan rumah tadi, "AMAK" sedang merumput di halaman. Merumput bahasa kami disini adalah motong rumput di halaman dengan menggunakan arit atau celurit. Sementara tetangga sebelah kanan rumah kami sedang melakukan renovasi, yaitu mengganti kayu landasan rumah dengan kayu yang baru. Ada sekitar 3 orang tukang yang bekerja di sana, yaitu Pak Zulkifli, M. Yani dan Pak Maros, mereka satu kelompok diminta oleh si pemilik rumah untuk melakukan pekerjaan itu. Selain itu juga ikut di bantu oleh keluarga yang punya rumah, supaya pekerjaan cepat selesai.

Rumput di halaman itu tidak begitu subur, karena sering di potong oleh "AMAK". Jadi dalam waktu sekejab, hasil pengerjaan nya itu sudah kelihatan luas, di mulai dari sisi kiri rumah, truuuss sampai ke sisi kanan rumah. Ketika "AMAK" sedang mengerjakan di sisi kanan rumah, tiba-tiba aku mendengar suara keluhan kesakitan. Aku belum tau siapa yang mengeluh itu. karena posisi ku masih di dapur. Berulang-ulang kali suara itu aku dengar, "Aduuhhh.....Pehuk ku sakik..." ( Aduh..perutku sakit). kata AMAK. Mendengar suara itu, aku pun berupaya keluar mencari sumber suara itu. Setibanya aku di beranda rumah, pandangan ku langsung tertuju pada satu titik sisi kanan rumah, aku buka mata lebar-lebar untuk memastikan apa yang aku lihat. Dan ternyata ibu ku yang mengerung kesakitan sambil kedua tangannya memegang perut.." AMAK....AMAK....AMAK...... teriak ku dari atas rumah. Seketika aku meloncat, dan segera menuju kearah "AMAK". sambil menangis aku berkata... AMAK.....mide amak tadio..? mide mak..? ( Mak, amak kenapa, apa yang terjadi). Tak satu pun pertanyaan ku yang mak jawab. Mak masih melirih menahan rasa sakit. Kemudian ku popoh Mak ku dengan seorang diri, lalu ku bawa ke dalam rumah. 

Setibanya di rumah, Mak terus tak henti-hentinya minta tolong, minta tolong dan minta tolong, yang membuat aku semakin panik tak karuan, tidak tahu apa yang harus ku perbuat. Bapak tidak ada, kakak juga tidak ada, sementara adik-adik ku masih kecil. Ya Allah, tolong aku tuhan, apa yang harus ku perbuat, untuk mengobati rasa sakit Mak ku. Pikiran ku tidak menentu, hati yang tidak bisa berbuat banyak, bingung bercampur aduk, belum mengerti apa yang hendak ku kerjakan. Badan rasa gementar, luluh dan rontok rasanya tulang ini, keringat dingin seolah-oleh menjadi lautan di tubuh. Duduk tegak lutut di sudut rumah, sambil tangan menopang kepala, seolah-olah berpikir keras, mencari solusi untuk kesembuhan sang AMAK.

Sambil lirih, suara mak terdengar dari dalam kamar, meminta ku melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakit mak. "Ri....tolong imbau jani ileh o nok, suhok yu datang kumak. tolong amak nok, pehuk amak sakik..." (Hairi, mitak tolong panggilkan M Yani di sebelah rumah kita ini, suruh dia datang kerumah, tolong amak ri, perut amak sakit..). Mendengar suara permintaan Mak itu, tanpa basa-basi akupun langsung berlari keluar rumah, untuk minta tolong kepada Dang jani. Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud pun datang, dan segera menghampiri AMAK. Tanpa terlalu banyak basa-basi, seketika Jani melakukan apa yang ia tahu. Aku di minta untuk mengambilkan sesuatu yang kelak benda itu untuk di jadikan sebagai alat mengobati AMAK. Kemudian setelah semua yang ia minta lengkap, dia pun segera memulai mengerjakannya. Dari jarak yang tidak begitu jauh, aku melihat dia komat-kamit dengan benda yang ia minta tadi, dan aku juga tidak mengerti apa bacaan yang ia bacakan pada benda itu. Aku tidak perlu memikirkan itu, bagi ku adalah bagaimana Mak bisa sembuh dari sakitnya.

Pertolongan pertama pun usai di lakukan, dengan bercucuran keringat yang membasahi badan, semua ku lakukan demi AMAK, aku ingin melakukan yang terbaik untuk mak, agar AMAK bisa kembali sehat seperti semula. Namun, rasa sakit yang di alami AMAK belum memberikan tanda-tanda ke arah membaik dan justru bertambah sakit, dan akupun semakin panik. Kemudian Amak memerintahkan ku, untuk memberitahukan kepada ABAK, agar ABAK bisa segera pulang.

3 Km perjalanan kaki aku tempuh sambil berlari tanpa ada rasa capek. Karena dalam benak ku, ABAK harus segera tahu, bahwa AMAK dalam keadaan sakit. Capek, letih dan segala macam yang terjadi, aku abaikan, aku terus berlari dan berlari tanpa peduli, aku ingin segera sampai ke pada ABAK dan membawa ABAK pulang. Sesampainya di tempat ABAK, segera ku ceritakan bahwa AMAK minta ABAK segera pulang, karena AMAK dalam keadaan sakit. Tanpa perlu banyak bertanya, seketika mendengar AMAK sedang sakit, Bapak segera bergegas pulang, meninggalkan semua peralatan yang ia bawa, hanya sepatu dan topi yang masih melekat di badan. Getah hasil sadapan, pisau yang ia gunakan untuk menyadap semua ia abaikan, karena ia tahu, Kondisi kesehatan AMAK adalah lebih penting dari segala-galanya. 

Perjalanan 3 Km, bisa tembus dalam waktu kurang dari setengah jam, bisa di bayang kan bagaimana kecepatan ABAK berlari menuju rumah. ABAK memang terkenal dengan sigapnya, sigap dalam segala hal, apalagi yang berkaitan dengan keluarga. Nyawa beliau tidak harganya, selain dari pada keluarga. 

Singkat cerita, ABAK samapai di rumah, dan langsung menuju AMAK, memeluk AMAK sambil gemetar, menanyakan apa yang terjadi, mengapa ini bisa terjadi. Kondisi rumah sudah mulai rame, tentangga sekitar rumah, rupanya mengetahui bahwa AMAK sedang sakit. Beranda, dapur dan halaman, ramai dengan banyak orang, karena empati masyarakat yang begitu tinggi. Tapi Amak masih meraung-raung, menahan rasa sakit yang tak kunjung henti. Akhirnya semua keluarga mulai musrawarah, apa langkah-langkah yang harus di lakukan untuk memberikan pertolongan kepada AMAK. Ada yang menyarankan membawanya ke rumah sakit, ada yang menyarankan untuk berobat tradisional dan ada juga harus segera bawa ke Bengkulu. Semua kemungkinan-kemungkinan alternative di lakukan dalam upaya menyembuhkan AMAK dari rasa sakit.

Akhir Desember 1999

Tak terasa waktu sudah berjalan 4 bulan lamanya, berobat sudah di lakukan kian kemari, Rumah Sakit, Obat Alternative dan obat-obat herbal lainnya sudah di coba semuanya, ada yang memberikan harapan sembuh tapi hanya sebentar, coba lagi obat lain, sembuh sebentar kemudian mengulang lagi, begitu lah seterusnya. 

Dan pada Akhirnya, Malam itu adalah malam minggu, malam dimana banyak berkumpul para keluarga, kondisi AMAK sudah semakin memburuk, berat badan turun drastis, Makan tidak mau, sementara BAB pun juga tidak bisa. Sedih hati kami melihat kondisi ini, tapi kami tak punya daya untuk bisa menyembuhkan orang tua kami. Hanya kepada Allah saja kami berserah diri. 

Jam hampir menunjuk kan pukul 12.00 Malam, aku baru saja tertidur kurang lebih 2 jam sebelumnya, dan malam itu aku sengaja tidak tidur di ruangan dimana posisi AMAK di gulingkan, aku sedikit bergeser pas di ruang sebelum dapur.

Tiba-tiba suasana sedikit ramai oleh suara  tahmid dan tahlil, yang keluar dari mulut orang-orang yang berada di sekeliling AMAK. Sementara ABAK persis berada di samping kanan AMAK, Tangan kiri ABAK Merangkul kepala AMAK, dan tangan kanan nya menggenggam erat tangan kanan AMAK. Mulut ABAK menempel di telinga AMAK, sambil mengirinya menyebut nama ALLAH...ALLAH..ALLAH.... sesekali suara itu di sambut oleh AMAK dengan memberikan kode, sambil menggerakkan mulutnya....ALLAH.....ALLAH..ALLAH.... hanya kalimat itu yang mampu AMAK ucapkan. Kami semua sudah bangun, kakak pertama ku, kakak no 2, aku dan seluruh keluarga yang menunggu di rumah, menyaksikan kepergian AMAK dengan tetesan air mata. Aidi dan Isnaini adik bungsuku, sengaja tidak kami bangunkan, karena kahwatir dia akan mengangis meronta-ronta.  atas kepergian arang tuanya. Dan akhirnya kurang lebih jam menunjukkan PUKUL 1 malam, suasana jadi hening, diam seribu bahasa, semua mata tertuju pada AMAK. Sementara AMAK sedang berjuang menghadapi syakatarul Maut, berjuang agar bisa lepas dari godaan syetan, dan akhirnya pergi dalam diam.. INNALILAHI WAINNALILLAHI RAJIUN.... Selamat jalan AMAK...semoga engkau di ampuni semua dosanya, di maafkan semua kesalahannya dan di terima semua amal ibadahnya serta di berikan tempat yang layak, syurga jannatun naim...

Kami semua Ikhlas mak, ikhlas di tinggal kepergianmu, semoga kami semua kuat dalam menjani hidup, terutama membimbing adik-adik kami menjadi anak yang baik, sholeh dan sholehah serta selalu mengirimkan doa untuk mu...Amin. 

Dari kami, 5 Saudara yang sangat merindukanmu... AMAK dan ABAK 

Penulis: Hairi Yanto



1 comments:

Baby zu mengatakan...

Sedih bacanya .....


Posts Terbaru

Arsip Blog

Kategori

Info (10) Motivasi (8) OPINI (6) Pendidikan (3) Short Story (4) Sosok (1)

Pengikut