Home » » Anak yang terlahir dalam keadaan fitrah

Anak yang terlahir dalam keadaan fitrah

Hafidz dengan Ayahnya
Anak yang terlahir di dunia ini semuanya dalam keadaan fitrah, di tangan kedua orang tuanya lah yang membuat anak itu menjadi penganut agama Yahudi, Nasrani maupun Majusi.  Hal ini di nukil dalam sebuah hadits Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi”. (HR Abu Hurairah)

Hadits ini menegaskaan kepada kita semua selaku orang tua, bahwasannya tumbuh kembang seorang anak berada di tangan kita. Tugas selaku orang tua pada hakikatnya sangat lah berat. Berat memikul amanah yang langsung di berikan oleh Allah swt kepada kita. Amanah di berikan kepada kita ini dalam keadaan suci, bersih tanpa ada noda dan dosa. Dalam prosesnya, membimbing, mendidik, menafkahai itulah yang menjadi beban yang paling berat bagi kita. Nafkahi misalnya, tugas kita memberikah nafkah kepada mereka dengan nafkah yang Halalan Thayyibah, Halal lagi baik, bukan hanya sekedar baik, tapi juga halal, bukan hanya sekedar halal tapi juga harus baik. Ketika nafkah yang kita berikan kepada anak dan keluarga kita dalam keadaan yang tidak halal, maka seluruh darah yang mengalir di tubuh mereka dalam keadaan tidak bersih. Darah yang tidak bersih akan mensuplay makanan menjadi tidak baik, ketika darah, daging, dan nanah yang tidak baik itu mengalir di tubuh anak maka jadilah anak tersebut tidak lagi suci, dan tidak bersih,

QS. Al-Maaidah : 87-88
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (٨٧)وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلالا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ (٨٨)
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allahhalalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maaidah : 87-88

Dalam hal mendidik misalnya, para orang tua juga harus mendidik anak dengan didikan yang baik. Terutama mendidik anak kita kepada ajaran Agama. Kita perkenalkan nilai-nilai ketauhidan itu sejak dini. Ajak dia mengenal semua ciptaan Allah, bawa mereka untuk taat terhadap ajaran agama. Ajari mereka shalat, ajari mereka baca Al-qur’an, ajari mereka menghomati orang tua, ajari mereka meminta maaf jika berbuat salah, ajari mereka nilai-nilai kebaikan dalam pergaulan antar sesama, ,ajari mereka pada sebuah kemandirian, ajari mereka tanggung jawab, ajari mereka pada sebuah kejujuran dan ajaran-ajaran yang membawa dia kepada sebuah ketaatan dan kepatuhan. Dengan demikian dia akan mengerti bahwasannya kehidupan ini harus berjalan di bawah aturan Allah swt.

Hafidz bergaya di kantor Ibunya
Biarkan mereka mengisi dunia mereka sendiri, dunia anak-anak yang senang dengan permainan, mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua, mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari kedua orang tua. Ketika anak berhasil melakukan sebuah tugas kemandiriannya, berikan dia tepuk tangan dan ucapan selamat, agar ia merasa bahwa dia di hargai. Jangan paksakan anak untuk mengikuti semua kehendak kita, sementara kita kita mau mengikuti kehendaknya. Hal ini seperti yang di sampaikan oleh Marry Leonhart dalam sebuah bukunya bahwa ketika kamu ingin anak-anak mu mengikuti seperti yang engkau mau, maka ikutilah seperti apa yang ia mau, kita kamu ingin anak-anakmu mengatakan seperti apa yang engkau kehendaki, maka berkata-katalah seperti perkataan anak-anak. Disini Marry ingin memberikan nasehat kepada kita bahwa dalam menjalani komunikasi dengan anak, harus lah di jalankan dengan pola yang seimbang, tidak berat sebelah atau memaksa diri dari satu pihak.

Betapa indahnya, ketika kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang taat kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa. Menjadi anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya, ketika mereka telah tiada. Semua itu tentu tidaklah mudah, butuh perjuangan yang ekstra, butuh kesabaran yang baik, serta membutuhkan waktu yang sangat panjang. Semoga kita senentiasa mampu mengemban amanah ini dengan baik, agar kita tidak di cap oleh Allah swt sebagai hamba yang gagal mengemban amanah yang di berikan kepada kita. Dan akhirnya kita gagal mendapat ridha dari padaNya.

Penulis: Hairi Yanto

1 comments:

JESSICA YONG mengatakan...

KUMPULAN VIDEO LUCU,LANGSUNG SAJA TEKAN LINK DI BAWAH INI YA :

https://sukamodel.com

YUK DAPATKAN BONUS Rp. 10.000 SECARA GRATIS TANPA SYARAT ....!!!


Posts Terbaru

Arsip Blog

Kategori

Info (10) Motivasi (8) OPINI (6) Pendidikan (3) Short Story (4) Sosok (1)

Pengikut