Home » » Hasil Penelitian Mahasiswa USU tentang sejarah bahasa PEKAL

Hasil Penelitian Mahasiswa USU tentang sejarah bahasa PEKAL

Tulisan ini bukanlah hasil dari karya saya sendiri, namun ini merupakan hasil penelitian dari seorang mahasiswa USU yang bernama Frita Anjelina tahun 2014. Di sini saya hanya menyalin bahagian pembahasan tentang Bahasa Pekal. Karena saya ingin berbagi informasi tentang Suku saya sendiri, yaitu SUKU PEKAL. Berikut Ulasannya....

Secara etimologi, Pekal berasal dari kata mengkal yang berarti belum matang namun sudah tidak lagi mentah. Menurut legenda, nama ini diperoleh karena suku Pekal merupakan bentuk mengkal darisuku Minangkabau dan suku Rejang yang wilayahnya merupakan pemberian dari suku Minangkabau dan suku Rejang. Dengan begitu, suku Pekal berkaitan dengan mitologi suku Rejang dan hikayat  raja Inderapura dari Minangkabau (http://ms.wikipedia.org/wiki/Minangkabau).  Menurut bapak Makmur yang diamini oleh bapak Zhamari A.S
Jamal dahulunya  dikisahkan putri Rindu Bulan yang merupakan satu-satunya anak perempuan dari raja Rejang Lebong yang bernama menaruh hati dengan pemuda biasa di kerajaannya, sehingga raja Rejang Lebong marah dan memerintahkan keenam putranya untuk membunuh putrinya tersebut. Namun keenam putranya tidak tega membunuh adiknya, sehingga mereka membawa putri rindu Bulan ke tepi sungai besar dan membuatkannya sebuah rakit dari bambu dengan dibekali beras dan ayam. Sungai ini berasal dari dua bukit yaitu bukit Tapus yang sungainya bermuara di muara Ketahun dan yang satunya lagi bermuara ke Jambi. Maka pergilah putri Rindu Bulan dengan rakitnya menelusuri sungai. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan hingga setahun putri Rindu Bulan menyelusuri sungai hingga rakitnya rusak di muara. Setelah sampai di muara, ayam yang ia bawa berubah menjadi elang sedangkan beras yang ia bawa
tertumpah dan berubah menjadi  senggugu.  Inilah yang menjadi asal asul penamaan sungai Ketahun yang dilewati putri Rindu Bulan selama setahunSetelah rakitnya diperbaiki, ia melanjutkan perjalanannya sehingga sampai di pulau Pagai (Sumatera Barat). Kemudian ia diselamatkan dan dirawat oleh orang yang tinggal disana. Karena kecantikannya, ia mampu memikat hati anak raja dari kerajaan Pagai, lalu ia dipinang oleh anak raja tersebut dan menikahlah mereka.Putri Rindu Bulan kemudian mengatakan pada suaminya bahwa daerah asalnya dari daerah Rejang Lebong. Ia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke Rejang Lebong.
Menurut sumber lainnya yang jalan ceritanya sedikit berbeda, putri yang dimaksud bernama Putri Lindung Bulan yang merupakan putri bungsu dari Rajo Tiang Pat “Sultan Sarduni”, setelah ia menginjak remaja banyak sekali putra-putra Raja, putra-putra Sultan, dan putra-putra sunan dari Aceh, Sulawesi, dan daerahdaerah lain yang menyukainya dan ingin meminangnya. Tapi anehnya, setiap ada yang datang hendak melamar selalu saja secara tiba-tiba tubuh Putri Lindung Bulan mendapat penyakit kulit yang menulir, dan hal inilah yang membuat pinangan itu batal.  Namun setelah yang  meminang itu kembali kedaerah/kerajaannya, secara tiba-tiba pula penyakit Putri Lindung Bulan sembuh. Melihat kejadian yang terus terjadi atas Putri Lindung Bulan, yang menjadi aib bagi kerajaan khususnya bagi saudara-saudara Putri Lindung Bulan, maka datanglah niat busuk dari saudaranya ki Geto untuk membunuh Putri Lindung Bulan. Bermufakatlah saudara-saudaranya yaitu Ki Geto, Ki Tago, Ki Ain, Ki Genain, dan Ki Nio untuk menyingkirkan dan membunuh Putri Lindung Bulan. Mereka memberikan alasan kepada Sultan Sarduni untuk mengobati Putri Lindung Bulan ke hutan hingga sembuh. Maksud kelima bersaudara itu tidak disetujui oleh Karang Nio (saudara Putri Lindung Bulan lainnya). Ia kalah suara dan mendapat ancaman dari kelima saudara lainnya  bahwa harus ia yang membunuh adiknya tersebut. Akhirnya pada suatu hari setelah mendapatkan izin dari ayahnya, berangkatlah Karang Nio denga Putri Lindung Bulan menuju hutan. Sesampai mereka di sana, Karang Nio membawa Putri Lindung Bulan ke pinggir sungai (yang sekarang dikenal dengan sungai Ketahun) dan ia menceritakan niat buruk saudara-saudaranya yang lain. Ia pun berniat menyelamatkan Putri, ia menyuruh putri untuk berakit mengikuti arus sungai itu. Namun sebelum Putri berangkat, Karang Nio berencana untuk mengelabui ke-5 saudara lainnya dengan cara menyayat sedikit kulit telinga Putri dengan mata pedangnya sebagai barang bukti bahwa ia telah membunuhPutri Lindung Bulan. Sebelumnya ia membekali Putri dengan secupak (ukurann 1½ kg) berasdawai, sebuah kelapa, dan seekor ayam biring serta sepotong bambu sebagai satang (pendayung rakit). Setelah tugas dilaksanakan, Karang Nio kembali ke Bandar Agung untuk melaporkan kepada saudara-saudaranya bahwa Putri Lindung Bulan telah dibunuh dengan menunjukan barang bukti berupa pedang yang berlumur darah. Kepada ayahnya ia mengatakan bahwa Putri sedang berobat di tengah hutan. Setelah beberapa lama Putri Lindung Bulan berakit, sampailah ia di muara sungai. Karena muara sungai itu airnya tenang dan luas, ia membuang satang yang ia gunakan untuk mendayung rakitnya. Ia juga membuang buah kelapa dan ayam biring yang diberikan kakknya ke darat, lalu secupak beras  dawai ia hamburkan ke air muara sungai itu. Ia dan rakitnya hanyut hingga ke lautan sampai ia terdampar di pagi hari di sebuah pulau yang ia beri nama pulau Pagai (berasal dari bahasa Rejang yang berarti pagi). Satang bambu yang ia buang tadi berubah menjadi aur kuning, buah kelapa berubah menjadi nibung kuning, ayam biring berubah menjadi burung elang berantai, dan beras dawai berubah menjadi segugu. Benda-benda tersebut masih bisa dilihat sekarang di muara sungai Ketahun. 

Bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri: percakapan (perkataan) yang baik , tingkah laku yang baik, sopan santun (Kamisa, 1997:49). Bahasa Pekal merupakan bahasa ibu dari masyarakat Pekal yang menetap disana. Hampir seluruh masyarakat Pekal menggunakan bahasa Pekal sebagai media komunikasi dalam percakapan formal maupun percakapan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Pekal termasuk dalam rumpun bahasa Melayu cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Kecamatan Ketahun  merupakan salah satu daerah yang penduduknya adalah mayoritas suku Pekal. Masyarakat  Pekal ini sangat menjaga kelestarian budaya mereka, termasuk bahasa yang mereka pakai. Mereka terbiasa memakai bahasa Pekal dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan sesama mereka. Bahkan sebagian penduduk yang tidak bersuku Pekal pun mengerti dan fasih menggunakan bahasa ini, karena bahasa Pekal lebih sering digunakan jika dibandingkan dengan bahasa nasional (bahasa indonesia). Hal ini mengharuskan
mereka untuk beradaptasi dengan penduduk asli yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Pekal. Masyarakat suku Pekal  biasanya menyebut diri mereka sendiri sebagai Uhang Aok atau orang Pekal sedangkan bahasa merekasering disebut mekal. Bahasa Pekal sendiri sama di seluruh Kecamatan Ketahun, namun beda dialeknya. Sepanjang sungai Serut (Ketahun) bahasa Pekal banyak dipengaruhi dialek Rejang. Seperti contoh untuk mengatakan “tidak” masyarakat daerah ini menggunakan kata codo mirip dengan bahasa Rejang coa. Daerah Sebelat sudah dipengaruhi dialek Minangkabau. Sebagai contoh untuk mengatakan tidak menggunakan kata dodo mirip dengan bahasa Minangkabau indak ado. Meski terdapat adanya perbedaan dialek dan kosakata dalam bahasa Pekal,  namun perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan yang berarti dalam proses komunikasi antar penutur bahasa Pekal. Perbedaan dialek dan kosakata tersebut menjadi cerminan kayanya kandungan bahasa Pekal.

Sumber: repository.usu.ac.id>bitstrem>handle : 30 November 2017; 23.40

1 comments:

Aku Berani Sukses mengatakan...

Bagi sanak saudara yang memiliki pengetahuan tentang sejarah suku pekal, mari kita sama sama saling berbagi informasi untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang suku suku yang ada di indonesia


Posts Terbaru

Arsip Blog

Kategori

Info (10) Motivasi (8) OPINI (6) Pendidikan (3) Short Story (4) Sosok (1)

Pengikut